Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Kenangan Mantan Tenggelam Dalam Ingatan


Karya : Sona Adiansyah


Seabad "Pramoedya Ananta",
"Bumi Manusia" bercerita,
Berubah bentuk sampul dan warna,
"Annelies" kamu di mana ?

Kamu ingatkan buku itu,
Kamu ingatkan kenangan buku itu,
Kamu ingatkan aku pernah menghadiahi buku itu.

"Annelies",
Kamu tahu buku itu bukan sekedar bicara "Minke" romantis,
Histeris,
Terkikis,
Apalagi menjadi isak meraungkan tangis,
Tolong ! bukan "Annelies".

Kenangan mantan bersama daku,
Tenggelam dalam ingatanku,
Persoalan luka di antara sebuah buku.

Angeline

Angeline,
Raut wajahnya yang tak berdosa,
Tulus meminta kasih-sayang seorang ibu.
Sekalipun yang kamu ingini kasih sayang itu datang dari ibu angkatmu,
Tapi, Ratapan dan Tangisan yang dirimu rasakan setiap saat,
Sungguh ibumu tidak memiliki jiwa keibuan sedikitpun,
Begitu tega merampas kemerdekaanmu untuk hidup.
Tuhan, mungkin Angeline merupakan satu diantara kekejaman atas pengadopsian seorang anak. Bagaimana dengan anak-anak lainnya yang mereka harus hilang tempat bermain, tempat tinggal dan banyak lagi.
Angeline
Kini, namamu tinggal nama nak ?
Kenang-kenangan bersama bonekamu memperlihatkan jika dirimu benar-benar memperlihatkan dirimu butuh dengan kasih dan cinta seorang mama.
Angeline
Moga dirimu tenang dan kekal di alam baka sana nak.
Semoga Hukum berkata Adil atas apa yang terjadi,
Amien.

(Kreatifitas ini disumbangkan atas kematian Angeline) 
By :Sona Adiansyah-17 Juni 2015. Yogyakarta

Cengkeraman Kapitalisme Di Bumi Lancang Kuning


Asap seolah-olah menjadi fenomena yang menakutkan. Ketika hutan dibakar yang dipaksakan menjadi basis industrialisasi pertanian. Siapa yang dipersalahkan ? Petani, lagi-lagi petani yang ditahan dan ditangkap yang dibayar oleh pihak perusahaan. Kemana pemilik perusahaan ? Apakah mereka berdalih yang jelas-jelas itu mereka yang berkilah. Seolah-olah birokrasi pemerintahan bungkam dan diam seribu Bahasa.

Kemiskinan yang tersedia khususnya masyarakat Riau hanya dipersiapkan untuk menjadi budak ditanah lancang-kuning. Tanpa harus mereka tahu seberapa kekayaan energi dan minyak yang mereka miliki ditanah mereka sendiri. Apakah memang disengaja ketidaktahuan mereka tersebut dibungkam atas hak kekayaan yang mereka miliki ? Bukankah baru-baru ini terdengar isu bagaimana tertangkapnya mafia minyak dikepulauan Riau ? Sekelas PNS saja kekayaannya melebihi kekayaan Gayus Tambunan “Buslsyettt”. Korupsi yang didepan mata memecahkan rekor diindonesia tiga periode secara berturut-turut telah tertangkap basah oleh Negara dan menjadi tersangka ? Lebih dari itu banyak perihal yang hari ini belum terdeteksi dan terintelejensi oleh pihak birokrasi penangkapan. Harapan terbesar semoga Rakyat Lancang – Kuning untuk terus melakukan pengawasan dan kontrol. Jikalau tidak, kita mati dalam perpolitikan busuk yang mematikan dan memarjinalisasikan oleh perampasan lahan tersebut. Riau merupakan ujung tombak para perusahaan besar asing masuk ke Indonesia yang kemudian mereka juga yang memperkaya birokrasi Riau yang meraup keuntungan. Tanpa pernah berfikir bagaimana seharusnya mereka mensejahterakan masyarakat Riau yang jelas-jelas masih banyak ekonominya dibawah rata-rata (kemiskinan).

Apapun alasannya bahwa Bumi Lancang Kuning hari ini dibawah ketiaknya negara-negara pemodal besar (komprador Kapitalis) yang lahir dari rahimnya negara-negara Imperialis. Siapa yang mengendalikan Chevron, Wilmar, Caltex, Sinar Mas dan lain-lain. Sekiranya birokrasi Negara dengan senang hati untuk menjelaskannya.



……..Thanks……..




Untuk Dia


My Lovely. Jika, ditanya kenapa seorang Demonstran itu Dramatis. Bukan karena sok Alay ke Koreaan Selatan, Boy Band, dan sok Intelektual dan Revolusioner.

Tapi, itu dikarenakan relaksasi kehidupan yang serba kontradiksi, kejam, konkrit, objektif dan menjadi fase historis ketika hal yang positif telah ia lakukan.

Mungkin dunia yang ia hadapi sangat berbeda dengan aktivitas manusia yang sepantasnya. Karena juga kesehariannya taring-taring dan duri-duri kehidupannya yang sering mengancam gerak-gerik dimana ia akan melangkah.

Jadi hal yang wajar seorang Demonstran bukan menjadi orang yang lantang bila berhadapan dengan My Lovely_nya. Tapi, karena ia diajarkan dalam mengenal identitas diri keadilan, penindasan, dan kebenaran harus Setia. Sebaliknya dengan My Love_nya.

"Setiaku Untukmu....
Mimpiku hanya Untukmu....
Selebihnya tidak akan ada kata henti-hentinya....
Aku berteriak dalam hatiku...."Me to Love You. My Lovely"


Thanks atas segalanya....

Semoga tidak akan pernah bosan dengan perilakuku yang Dramatis. Tujuannya hanya satu.
Asalkan My Lovely Senang & Bahagia.



From


My Love_ly
------------------------------------------------------------------------------------
"aktivis dilukiskan sebagai individu yang sulit dipahami oleh ibunya sendiri. Dalam artikata ia melawan kebiasaan lazim yang pernah hidup dalam keluarga dan tidak mau untuk menjadi pekerja yang menghabiskan hidupnya dalam rutinitas." (Ben Anderson dalam Cerpen Thailand Karya Whitayakon Chiangkuah)
----------------------------------------------------------

Bertani atau Mati, "Lawan Perusahaan Tambang"


Hari demi hari…
Petani menjadi serba salah…
Serba kalah…
Dan serba tidak memiliki hak…

Hak atas kemerdekaan hidup…
Hak atas tempat tinggal…
Serta hak untuk bercocok tanam…
Namun, ketika alat traktor itu datang,
Mereka resah, didera begitu banyak pertanyaan…
Apakah, seorang Tani diharuskan menjadi orang yang terbelakang, termarjinalisasikan, serta teralienalisasikan oleh kemerdekaan penguasaan lahan.

Ternyata,
Mulut mereka dibungkam,
Kekritisan mereka dipenjarakan,
Serta, kaki dan tangan mereka dipasung…
Tanpa ada kejelasan Hak Asasi Kemanusiaan.

Memang,
Seorang Tani sekolahnya dilahan,
Cangkul dan parang dijadikan tombak pengetahuan.
Tapi, ketika perusahaan tambang itu datang…
Itulah awal matinya keadilan kerakyatan…

Ini bukanlah takdir kawan…
Maupun takaran rezeki yang harus diempu oleh kaum Tani.
Namun, inilah ketertindasan manusia atas manusia yang masih berlaku.
Jika, penggusuran lahan, pendiskriminalisasian, dan pemiskinan masih ada dibumi pertiwi dan seantero…

350 tahun kita dijajah oleh colonial Belanda,
Tiga setengah tahun kita dipaksa bekerja di Romusha Jepang,
Kemudian hari, kita masih dibelenggu oleh kekuatan perang perusahaan tambang…
Yang terus mengekspansi, mengeksploitasi, dan memprivatisasi lahan yang seharusnya dimiliki oleh kaum Tani dan anak negeri.

Alam dicemari,
Gunung diledaki,
HAM dikebiri,
Hukum dimata mereka, hanyalah sebuah mimpi,
Mimpi yang termanifestasi untuk kepentingan penguasa dan pemilik modal ujung negeri.

Lalu, kaum Tani milik siapa ?
Dimana mereka harus mengadu ?
Siapa yang harus melindungi mereka ?

Lagi-lagi rakyat dijadikan Boneka…
Boneka mati yang tak bernyawa…
Turun kejalan adalah menjadi jawaban.
Walaupun, tameng dan senjata telah dipersiapkan menghadang…
Segera mencabut nyawa-nyawa manusia yang tidak berdosa.

Jika ditanya siapa yang harus bertanggung jawab atas tambang Kulon Progo ?
Lapindo ? Diskriminasi Petani Kebumen ? Sertifikat Hak atas Tanah di Banjarnegara ?
Semuanya…Relaksasinya hanya nihil, mustahil kemerdekaan alat produksi yang dikuasai oleh perusahaan tambang mampu mendatangkan kalimat “sejahtera” bagi kaum Tani.

Lagi-lagi…
Lawan dan lawan adalah studi konkrit,
Mengintensifitaskan identitas perlawanan kaum Tani terhadap tambang.
Agar, tambang tidak merajalela, mengikis, dan membunuh kehidupan sekian juta umat manusia dimuka bumi………………

------------------------------------------------------------------------
“Hidup Rakyat…
Bertani atau Mati
Hidup Rakyat yang anti tambang”
--------------------------------------------------------------------------------

Selagi, penindasan membunuh keberadaan Kedaulatan Rakyat.
Maka, selama bulu kudukku berdiri…
Bukan, berarti takut. Tapi, rela menyerahkan nyawa dan jatidiri mengabdi meluluhlantahkan
Perlawanan. Kirimkan rudal suara “LAWAN” Tambang yang membunuh dan menindas.
(kalimat sejati Vanguard Kedaulatan Rakyat)

=====19 Januari 2014, dibaca di Nol Kilemeter. Solidaritas Mahasiswa Yogyakarta menolak Tambang===




Curhatku pada Alam

Gulungan ombak yang menyerupai stunami,
Angin kencang bak topan,

Sisi kanan dan kiri terlihat nelayan dan petani yang sedang melakukan aktivitas.
Semangka dan melon melengkapi sejuta keindahan pertanian serta pantai bak berlian dihiasi pasir maupun material besi.

Sekilas ini memberikan kebahagiaan dan senyuman untuk berpose didepan kamera,
Berdiri tegap dan action yang semestinya tidak pantas dilakukan.

Ada sisi yang lebih ekstrim dibalik keindahan yang dilihat.
bukan makhluk yang seram maupun binatang buas yang dipertantang.

Tapi, sekilas selayang pandang bangunan ala kolonial berdiri dibalik sejuta keindahan yang terlihat.
Tambang yang jelas - jelas merampas hak dan martabat ini telah dipertontonkan.

Rakyat bukan lagi dilindungi yang menjadi kewajiban kekuasaan, dengan kewajiban dan kekuasaan yang ada mereka mengangkangkan kedaulatan rakyat di eksploitasi kepada bandit-bandit "comprador capitalism."

Seharusnya 7 setan desa segera bertobat.
apakah kebahagiaan anak-anak yang kecil belia
harus kehilangan segalanya.
orang tua ronta di plintir keperadaban penjara  kesengsaraan dihari Tua.

Melankolis bukanlah jawaban untuk menyatakan berhenti,
Retorika memang sudah mampu untuk angkat bicara.
proses dialektika, sepaling tidak dengan seperti ini sedulur borjuasi bisa musnah bisa mendengar dan melihat.

BENCANA TAMBANG
Pesisir Lahan Pantai Kulon Progo
=====================

Puisi Whiji Tukul



Ketika penguasa pidato,
Kita harus hati-hati,
Barangkali mereka putus asa.

                Kalau rakyat bersembunyi,
                Dan berbisik-bisik ketika membicarakan massa hanya sendiri,
                Penguasa harus waspada,
                Dan mencoba belajar mendengar.

Bila rakyat tidak berani mengeluh,
Itu artinya sudah gawat,
Dan bila omongan penguasa tidak boleh dibantah,
Kebenaran pasti terancam.

                Apabila usul ditolak tanpa ditimbang,
                Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan,
                Hanya ada satu kata lawan.............................

Sesungguhnya suara itu tak bisa diredam.
Mulut bisa dibungkam,
Namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang,
dari pertanyaan – pertanyaan lidah jiwaku.

                Suara  - suara itu tak bisa dipenjarakan,
                Disana bersemayam kemerdekaan,
                Apabila engkau memaksa diam,
                Aku siapkan untukmu “pemberontakan”.

Seumpama bunga,
Kami adalah bunga yang tak kau kehendaki tumbuh.
Engkau lebih suka membangun,
Rumah dan merampas tanah.

                Seumpama bunga,
                Kami adalah bunga yang tak kau kehendaki adanya.
                Engkau lebih suka membangun,
                Jalan raya dan pagar besi.

Seumpama bunga,
Kami adalah bunga yang dirontokkan dibumi kami sendiri.

                Jika kami bunga engkau adalah tembok,
                Tapi ditubuh tembok itu telah kami sebar biji – biji.

Suatu saat kami akan tumbuh bersama,
Dengan keyakinan kami engkau harus hancur.
Dalam keyakinan kami,
Dimanapun tirani harus tumbang.

Untuk

Untuk hari ini
dan untuk hari esok
Entah kapan aku bisa melihat desaku lagi

Bukan kehendakku
dan bukan ku ingin
Namun, karena cita-citakulah aku harus pergi
Diperantauan

Untuk ibu
jangan teteskan airmatamu ibu
kepergianku bukanlah perpisahanmu
karena kepergianku hanyalah
mencari masa depan yang cerah dan cemerlang
Untukku, untuk keluargaku banhkan Untuk semua...

Untuk ayah
ayah... maafin atas kesalahan sona selama ini
sona taw kalau sona banyak kesalahan
terutama sama ayah...

suka ngelawan dan ngebantah...

Untuk semua By...By

3-juni-2010

Sepeda



Sepeda,...
Engkau adalah teman yang paling setia,
dimanapun aku pergi,
tidak pandang hujan dan tidak pandang panas,
kau tetap kunaiki.

sepeda ,..
tetapi dikala kau rusak,
kau akan memebuat aku kecewa sedih dan pilu,
tentulah kau tidak bisa mengantarku,
kemanapun aku pergi.

sepeda,..
kau kubeli dari keringatku sendiri,
kau kugerakkan dari kakiku sendiri,
tentulah kalau kau rusak ku perbaiki sendiri.

sepeda,..
kau tetap kukenang jasamu,
dan kau tidak aku lupakan,
walaupun disuatu saat nanti,
aku punya motor baru.

Tanpa Kehadiranmu




Disaat waktu engkau tiada atau engkau tidak hadir,
kumerasa ada yang kurang pada diriku,.. 
entah kenapa,..
hatiku sering bertanya,..
ada apa denganmu,..

kasihh,..
kemana kamu hari ini,..
asal kamu tahu,..
kumenanti kehadiranmu,..
dari sejak pagi,..
seiringnya waktu, menit, detik, dan jam.
untuk menghilangkan rasa kegelisahan hatiku,..
aku sering mengingatimu,..
apakah kamu sebaliknya pada diriku,..?
tanyakan pada hati kecilmu,..

sayang,..
kuteteskan air mataku, dipipiku,..
ketika aku diberi kabar,..
kamu tidak hadir hari ini,..
dikarnakan kamu sakit,..
tersentak hatiku,..
ketika mendengar berita itu,.
aku enggak tahu,.
aku harus bilang apa,..
cuman dihatiku bilang,..
aku cuman bisa bermohon,..
kepada yang maha kuasa,.
moga-moga Allah SWT cepat-cepat menghilangkan rasa sakitmu,..
karena apabila kamu sakit,..
akupun ikut merasakan sakit,..

Begitulah kuatnya cintaku padamu,..
dan dihatiku juga bilang,..
aku enggak bisa lama,..
tanpa kehadiranmu,..
karena satu hari,..
tanpa kehadiranmu,..
kenangan yang terindah dalam hidupku,..
luput dari kesempurnaan hidupku,..

Cepat sembuh yeaa sayang,.
kutunggu kehadiranmu esok harii,.. 21-07-2009

Dibalik Kebahagiaan Orang Lain



Ketika itu kupandang,
Dari sisi kejauhan,
Bila rembulan yang takkan redup,
Diantara bintang dan bulan yang selalu setia bersama menemani ambangnya kegelapan.
            
Sebaliknya apa yang kulihat,
Canda dan tawa mereka berdua,
Memberikan suasana yang indah dalam hidupku.
Ditambah dengan hadirnya sang mentari sebagai saksi.
Apakah sang mentari itu aku ? Hemm......
            
Berbagi kasih sayang dan mempunyai rasa memiliki antara satu dengan yang lain,
Ini memberikan aku yakin bahwa kasih sayang itu benar-benar nyata.
Apakah ini yang namanya C.I.N.T.A ? Ataukah aku ingin seperti mereka ?
            
Tapi......
Phositif Thinking pastinya,
Segala sesuatunya harus berbuat yang terbaik,
Untuk hari ini maupun esok.
Untuk cinta atau apapun yang bisa kulakukan hari ini.

Sinopsisnya

Didepan taman kampus kedokteran UMY hadir sosok mahasiswa yang sedang duduk dan galau mengerjakan skripsi. Dirobek skripsinya yang setengah jadi, muka yang penuh dengan rasa jengkel serta kemerah-merahan, hampir dia ingin berteriak. Tapi, perasaan kekecewaan itu digantikan oleh kehadiran dua sijoli yang menghampirinya. Kemudian mengubah arus nalar fikiran mahasiswa tersebut untuk tetap fokus pada kedua sijoli tersebut. Secara kebetulan jarak yang memang tidak begitu jauh diantara taman dan parkiran mobil, posisi dimana dua sijoli yang sedang memadukan kebahagiaan. Dari awal sampai akhir dia tetap fokus dengan aktivitas dua sijoli tersebut. Hingga akhirnya dia tersenyum dan menyusun kembali sisa skripsi yang belum diselesaikan untuk diperbaiki kembali. Hingga akhirnya kedua sijoli tersebut luput dari penglihatannya.

Dalam Lamunanku Pagi Ini

air yang mengalir,..ditepian sungai,..burung berkicau didaunan yang hijau,..angin berhembus terkdg kebrt timur ,selatan dan seterusnya,..pemndangan yg begitu indah dikelilingi sawah dan gunung yang saling bersahutan

Lalu aku bertanya pada gedung yg tingggi:

sona : hei gedung knapa kaw membuat suasana panas disekitrku,..
gedung : ini bukan ulahku,.(berulang - ulang)
sona : terus kalo bukan ulah elu,..sapa lagi,..
gedung : tanyakan pd manusia,..
matahari yang cerahh,..terasa panas yg mencengkram,..
disaat mendungpun hangtnya sang mentari tetap saja tersa,..
beda ketika suasana hening yg ada didesa,..
suasana dingin yg tidak penuh dgn kepalsuan,...