Komoditi

Bukan sesuatu yang kebetulan bila marx menaruh bahasan tentang komoditi pada bagian awal Das Kapital. Corak produksi kapitalis disangga oleh produksi dan pertukaran komoditi, dengan lirikan pertama pada komoditi, marx memulai penyelidikan panjang dan melelahkannya atas kapitalisme (lihat Marx,2004. Bagian I).

Menurut Marx, pertama-tama, komoditi adalah objek. Objek mengandaikan adanya subjek. Komoditi selalu terkait dengan manusia subjek. Kaitan antara objek dan subjek ini juga mau-tidak-mau harus melalui hubungan-hubungan tertentu sebagai predikat. Pertama-pertama, sebagai objek, komoditi selalu memenuhi kebutuhan tertentu manusia, entah kebutuhan itu bersifat fisik maupun psikologis. Sejalan dengan tujuan lainnya tujuan keindahan, misalnya sebuah mantel memenuhi kebutuhan untuk tetap hangat dikala cuaca dingin. Kegunaan yang dikandung sesuatu kemudian diberi istilah “nilai-guna”.

Komoditi bukan hanya objek dari kebutuhan tertentu. Tidak semua yang bisa memenuhi kebutuhan tertentu manusia adalah komoditi. Untuk menjadi komoditi, sesuatu harus dibuat oleh manusia yang mencurahkan kerjanya. Udara misalnya, meskipun ia berguna untuk kebutuhan tertentu manusia, tetapi karena udara bukan buatan manusia, atau karena selama ini udara belum megalami perubahan lewat pencurahan kerja manusia, maka udara bukan komoditi.

Tidak juga semua yang dibuat atau dicurahi kerja manusia untuk memenuhi kebutuhan tertentu adalah komoditi. Komoditi harus hasil kerja manusia yang dihasilkan dalam rangka untuk dipertukarkan. Komoditi harus hasil dari kerja manusia yang dihasilkan dalam rangka untuk dipertukarkan. Sebuah mantel yang dipakai oleh pembuatnya sendiri bukanlah komoditi. Komoditi harus hasil kerja manusia yang dihasilkan dalam rangka untuk dipertukarkan. Sebuah mantel yang dipakai oleh pembuatnya sendiri bukanlah komoditi.

Sedangkan mantel yang sengaja dibuat untuk memenuhi kebutuhan tertentu manusia dan dipertukarkan adalah komoditi. Namun, Marx belum selesai sampai sini, tidak semua sesuatu yang dibuat manusia untuk memenuhi kebutuhan tertentu dan dipertukarkan, adalah komoditi. Harus ada syarat terakhir untuk menjadi komoditi, yaitu pasar atau lembaga pertukaran yang menggunakan uang sebagai sarana tukarnya. Oleh karena itu, disamping mengandung nilai guna, suatu komoditi juga harus menyandang nilai-tukar atau nilai suatu komoditi bila dibandingkan dengan komoditi lain dalam proses pertukaran.

Nilai-tukar komoditi dipertukarkan dipasar dengan sejumlah tertentu nilai yang menunjukkan nilai yang setara. Misalnya, jika sebuah mantel ditukarkan untuk dua pasang sepatu, itu artinya nilai yang dikandung sebuah mantel adalah dua pasang sepatu. Yang menentukan kesetaraan nilai ini adalah sejumlah waktu kerja yang dibutuhkan secara sosial untuk membuat sebuah mantel dan dua pasang sepatu. Inilah hukum abstrak pertukaran nilai yang melandasi teori nilai kerja; teori pokok ekonomi Marx. Nilai sebuah komoditi adalah sejumlah kerja yang secara sosial dibutuhkan yang dicurahkan untuk menghasilkannya; dan suatu nilai-tukar dipertukarkan dengan nilai-tukar yang setara.

Nilai bukanlah sesuatu yang bisa diamati dari perwujudannya. Nilai mewujudkan dirinya hanya ketika komoditi memasuki hubungan pertukaran dengan komoditi lain atau dengan kata lain melalui hubungan sosial. Nilai-tukar adalah perwujudannya nilai. Bila nilai adalah roh, maka nilai-tukar adalah perwujudannya didalam pertukaran sekaligus nilai komoditi itu sendiri dalam dalam kehidupan sosial. Untuk mengungkap nilai suatu komoditi maka kita harus membandingkan komoditi dengan komoditi lainnya.

 dalam pertukaran, menurut Marx, setiap menyandang dua bentuk nilai, yaitu nilai-relatif dan nilai -penyetara. ambil contoh untuk komoditi lain, misalnya tong. didalam pasar komoditi, sebilah pisau ditukar dengan dua buah tong kayu. Nilai pisau dalam pertukaran itu adalah nilai relatif sedangkan nilai tong dalam pertukaran itu adalah nilai-penyetara dari pisau. Nilai dua buah tong kayu menyatakan nilai dari sebilah pisau, dengan kata lain, nilai sebilah pisau adalah dua buah tong. Dengan begitu kita tahu nilai sebilah pisau. jadi, sekali lagi, nilai suatu komoditi hanya bermakna dalam pertukaran; dalam sebentuk hubungan sosial antar manusia.

_Dede Mulyanto, "Antropologi Marx" hal. 161-162

0 komentar:

Posting Komentar