Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Sultan Suryansyah

Pendiri kerajaan Banjar Islam ini sewaktu muda dikenal dengan nama Raden Samudera. Sejak usia 7 tahun ia sudah ditinggal kedua orangtuanya. Raden Samudera kemudian dipelihara oleh kakeknya, Maharaja Sukarama, penguasa Kerajaan Negara Daha. Raden Samudera baik dari garis ibu maupun ayah, merupakan keturunan Raden Sekar Sungsang yang saat memerintah Negara Daha bergelar Maharaja Sari Kaburangan.
Kerajaan Banjarmasin pada hakekatnya adalah lanjutan dari Kerajaan Negara Daha. Ramli Nawawi, dalam tulisannya berjudul Mengungkap Sejarah Banjar: Mengapa Pangeran Sukarama menunjuk Raden Samudera Sebagai Penggantinya?, Banjarmasin Post, 20 Februari 1979, menyatakan Raden Samudera pembangun Kerajaan Banjarmasin, seorang yang mempunyai hubungan darah dengan Raden Sekar Sungsang, raja pertama di Negara Daha.

Ada dua versi silsilah asal usul Raden Samudera yang menghubungkan ia dengan raja-raja yang berkuasa sebelumnya di Negara Daha atau di Negara Dipa. Versi pertama berdasarkan cerita tradisi tertulis, versi kedua berdasarkan cerita tradisi lisan. Peneliti Belanda JJ Ras dalam Hikayat Banjar, menamakan kedua versi silsilah itu dengan istilah Resensi I dan Resensi II.

Amir Hasan Kiai Bondan dalam Suluh Sejarah Kalimantan menulis, Raden Samudera adalah anak Raden Mantri Jaya anak Raden Bangawan anak Maharaja Sari Kaburangan (Sekar Sungsang). Sementara jika dari jalur ibu, Raden Samudera anak Putri Galuh anak Maharaja Sukarama anak Sekar Sungsang. Selanjutnya, Sekar Sungsang anak Maharaja Carang Lelean (Carang Lelana) anak Pangeran Suryawangsa anak Pangeran Suryanata. Pangeran Suryanata dengan istrinya Putri Junjung Buih adalah pendiri dinasti Kerajaaan Negara Dipa.

Silsilah versi Amir Hasan Kiai Bondan mengikuti Resensi I. Perbedaannya cuma pada nama orangtua Raden Samudera yang menurut Resensi I adalah Raden Mantri Alu anak Raden Suryawangsa anak Sekar Sungsang.

Sementara jika mengikuti Resensi II, Raden Samudera adalah anak Pangeran Tumenggung dan Ratu Intan Sari. Resensi II menyebutkan Pangeran Tumenggung bersaudara dengan Pangeran Sukarama. Keduanya anak dari Raden Mantri (Ratu Anom) anak Sekar Sungsang. Selanjutnya Sekar Sungsang anak Pangeran Aria Dewangsa anak Pangeran Suryanata. Menurut Resensi II, Sekar Sungsang beribu Putri Kabu Waringin anak Patih Lambung Mangkurat. Sebaliknya menurut Resensi I, Sekar Sungsang beribu Putri Kalungsu anak Maharaja Surya Ganggawangsa anak Maharaja Suryanata (Pangeran Suryanata).

Berdasarkan Resensi I di atas, Raden Samudera dilahirkan dari putri raja bernama Putri Galuh Baranakan dengan seorang laki-laki kemenakan raja bernama Raden Mantri Alu. Hubungan Resensi I dan II jika digabungkan, Putri Galuh Baranakan diperkirakan identik dengan Putri Ratna Sari (Ratu Lamak). Ratu Lamak (Putri Ratna Sari) dalam Resensi II menjadi penerus tahta kerajaan Negara Daha setelah Sekar Sungsang mangkat.

Mengapa Maharaja Sukarama mewasiatkan penerus tahta sepeninggal dia nanti adalah Raden Samudera? Sukarama kemungkinan tiada lain adalah saudara Sekar Sungsang. Sukarama bukan anak Sekar Sungsang (Resensi I), bukan pula cucu dari Sekar Sungsang (Resensi II).

Menurut Ramli Nawawi, ketika Sekar Sungsang (Maharaja Sari Kaburangan) memerintah yang menjadi mangkubumi adalah Pangeran Sukarama. Jatuhnya tahta dari Sekar Sungsang ke Sukarama dapat diperkirakan bahwa pada waktu Sekar Sungsang meninggal anak-anaknya belum dewasa. Karena itu tahta dipegang oleh Sukarama yang menjabat sebagai mangkubumi dan selanjutnya sebagai mertua dari Putri Galuh Baranakan.

Sebagaimana disebut dalam Resensi II bahwa tahta kerajaan setelah Sekar Sungsang wafat jatuh kepada Ratu Lamak (Putri Ratna Sari), tetapi yang melaksanakan pemerintahan adalah mangkubumi yang menjadi mertuanya yaitu Pangeran Sukarama.

Silsilah asal usul Raden Samudera, menurut Ramli Nawawi, jika disusun kembali maka Raden Samudera anak dari Pangeran Mantri Alu anak Pangeran Sukarama. Sedang ibunya bernama Putri Galuh Baranakan anak Sekar Sungsang. Karena itu wajar jika di dalam Hikayat Banjar disebutkan bahwa Pangeran Sukarama mewasiatkan kepada Patih Aria Trenggana bahwa apabila ia mangkat maka yang diangkat untuk menggantikannya adalah cucunya yang bernama Raden Samudera.

Seandainya Raden Mantri Alu waktu itu masih hidup, maka dialah yang ditetapkan sebagai calon pengganti. Bukan Pangeran Mangkubumi atau juga Pangeran Tumenggung, karena kedua orang ini sebenarnya kemenakan dari Pangeran Sukarama.

Kemelut di istana Negara Daha sepeninggal Sukarama membuat keselamatan Raden Samudera terancam. Pangeran Mangkubumi naik tahta tapi kemudian terbunuh. Pangeran Tumengung merebut kekuasaan dan mengangkat dirinya menjadi raja selanjutnya. Raden Samudera kemudian menjadi putra mahkota terbuang dan menyembunyikan diri hidup sebagai paiwakan (penangkap ikan/elayan) di Muara Bahan, Balandean, Sarapat dan Kuin. Pertemuannya dengan Patih Masih, penguasa orang-orang Melayu di Banjar Muara Kuin Cerucuk berujung dengan pengangkatan Raden Samudera sebagai raja. Ia kemudian terkenal dengan nama Pangeran Samudera.

Setelah memenangkan pertempuran melawan Pangeran Tumenggung, Pangeran Samudera resmi berdaulat menjadi raja Banjar Islam pertama. Khatib Dayan utusan Demak mengislamkannya. Kemenangan Pangeran Samudera diperoleh setelah mendapat bantuan pasukan tentara prajurit Demak yang dikirimkan oleh penguasa Demak waktu itu, Sultan Trenggono. Pangeran Samudera bergelar Sultan Suriansyah atau Sultan Suryanullah. Ia mangkat diperkirakan sekitar tahun 1546/1550. Setelah mangkat ia mendapat gelar baru sebagai Penambahan Batu Habang. Peristiwa kemenangan pertempuran terakhirnya pada 24 September 1526 diperingati sebagai Hari Jadi Kota Banjarmasin.

- See more at: http://www.kabarbanjarmasin.com/posting/sultan-suriansyah-pendiri-dinasti-kerajaan-banjar-islam.html#sthash.DFAUSRcX.dpuf

Suku Arafuru Ternate

Suku Alifuru Gunung, adalah suku asli yang mendiami pulau Seram
di provinsi Maluku. 

Suku Alifuru menurut cerita yang beredar di tanah Maluku, bahwa suku Alifuru ini sebagai manusia pertama yang menghuni pulau Seram dan termasuk wilayah lain di kepulauan Maluku. Konon katanya nama "alifuru" berasal "alef" dari bahasa Aram dan "uru" berarti "orang". Selain "alifuru", juga banyak memiliki sebutan lain, yaitu "alfur", "alfuros", "alfures", "alifuru" atau "horaforas", sedangkan orang Belanda menyebut mereka sebagai "alfuren". Terakhir nama "alifuru" berganti dengan nama "nusa ina", tapi nama ini tidak populer, sehingga nama "alifuru" lah yang tetap dipakai oleh etnis yang berada di pulau Seram ini.

Suku Alifuru Gunung memiliki kerabat dekat yang tinggal di daerah pesisir, yaitu suku Alifuru Pesisir. Kedua suku ini sebenarnya tidak berbeda, hanya karena telah terpisah sekian lama, maka terjadi beberapa perbedaan tata cara dan kebiasaan hidup. Tetapi secara adat dan budaya tidaklah terlalu berbeda.

Suku Alifuru Gunung ini memiliki kebiasaan yang berbeda dengan saudaranya Alifuru Pesisir. Suku Alifuru Gunung hidup mengasingkan diri di pedalaman di pegunungan, dan jarang berinteraksi dengan suku-suku lain di pulau Seram.

Suku Alifuru Gunung hidup di sekitar jalur pendakian menuju Gunung Binaiya. Mereka menjalankan adat istiadatnya dengan kuat. Sebagian besar dari suku Alifuru Gunung ini masih menganut kepercayaan tradisional yang mengandung unsur animisme.

Suku ini tinggal bersama-sama dalam satu rumah adat, walaupun berbeda turunan dalam rumah panggung yang besar berukuran 15 x 8 m. Dalam rumah adat mereka ini bisa dihuni sampai dengan 10 KK. Rumah mereka tanpa dinding pembatas ruangan, hanya saja diberi tanda semacam garis tiag untuk membedakan ruangan setiap keluarga.

Rumah adat suku Alifuru gunung ini dibuat dari pohon sagu tanpa menggunakan paku. Sambungan kayu dan tiang rumah diikat dengan tali yang dibuat dari rotan. Sedangkan atap terbuat dari daun nipah atau daun sagu. Bangunan rumah ditopang dengan bambu berukuran besar untuk menahan bangunan rumah.

Masyarakat suku Alifuru Gunung belum mengenal sistem jual beli, seperti suku Alifuru pesisir. Semua barang yang mereka butuhkan, didapat dari hasil tukar barang (barter) dari hasil panen yang mereka bawa ke Mosso untuk dibarter dengan bahan-bahan kebutuhan mereka, seperti garam, minyak tanah dan ikan asin.

Apabila ada anggota keluarga yang meninggal, maka secara serentak mereka akan meninggalkan rumah tersebut, karena menurut mereka rumah itu akan membawa sial bagi mereka. Rumah yang ditinggalkan tidak boleh didatangi apalagi dihuni.

Suku Alifuru Gunung ini memiliki tradisi unik dalam memakamkan anggota keluarga mereka yang meninggal. Mereka meletakkan mayat anggota keluargaanya di atas sebuah batu dan meninggalkannya dan dibiarkan hingga menjadi tulangnya saja. Mereka menganggap kematian bukan akhir dari segalanya, arwah dari jenazah tersebut sedang mengalami perjalanan ke dunia yang berbeda atau disebut dengan Puya. Tradisi pemakaman ini hampir mirip dengan pemakaman adat yang berada Toraja di Sulawesi Selatan. 

Mereka menempatkan jenazah tersebut di sebuah Liang, di atas batu yang dianggap kramat dan memiliki nilai magis sebagai pemakamannya. Bentuk batu yang dipilih pun tidak terlalu besar, asal terdapat celah atau gorong-gorong pada bagian bawahnya maka bisa dijadikan pemakaman. Karena mereka menganggap manusia pertama yang menginjakkan kakinya di bumi itu berasal dari batu, oleh karena itu jika meninggal mereka pun harus kembali ke batu.

Uniknya lagi, jenazah yang akan dimakamkan harus ditempatkan sebagaimana kebiasaan sehari-harinya. Jika jenazah tersebut semasa hidupnya suka tiduran maka dia akan ditidurkan pula pemakamannya, begitu juga jika dia suka duduk bersila, maka harus sama dengan pemakamannya. Hal ini tujuannya agar para arwah dari jenazah tersebut tidak marah dan tidak mengganggu para anggota keluarga lainnya yang masih hidup. Jenazah yang sudah dimakamkan akan ditinggal begitu saja hingga bau busuk menyengat hingga menjadi tulang-belulang. Bahkan tidak sedikit jenazah tersebut menjadi santapan bagi binatang buas.

Makanan utama mereka adalah sagu. Tanaman sagu menjadi tanaman utama mereka, yang diolah menjadi papeda. Papeda adalah makanan khas suku Alifuru, bentuknya seperti kanji dicairkan dengan air hangat dan rasanya tawar.

Dalam keseharian suku Alifuru Gunung hidup pada bidang pertanian. Mereka memiliki kebun dan ladang yang ditanami berbagai jenis tanaman, seperti tanaman kopi, cengkeh, kasbi dan terutama tanaman sagu yang menjadi tanaman pokok mereka.

sumber :

malukuonline: hak-hak kalian dirampas mengapa kalian diam
angelfire: asal-usul penduduk maluku
travel detik: mengintip pemakaman suku alifuru di sinahari
hatunegeriku: acara adat negeri hatu
http://protomalayans.blogspot.com/2012/11/suku-alifuru-gunung-maluku.html

Suku Baduy

Sebutan "Baduy" merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau "orang Kanekes" sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo(Garna, 1993). Konon pada sekitar abad ke XI dan XII Kerajaan Pajajaran menguasai seluruh tanah Pasundan yakni dari Banten, Bogor, priangan samapai ke wilayah Cirebon, pada waktu itu yang menjadi Rajanya adalah Prabu Bramaiya Maisatandraman dengan gelar Prabu Siliwangi. Kemudian pada sekitar abad ke XV dengan masuknya ajaran Agama Islam yang dikembangkan oleh saudagar-saudagar Gujarat dari Saudi Arabia dan Wali Songo dalam hal ini adalah Sunan Gunung Jati dari Cirebon, dari mulai Pantai Utara sampai ke selatan daerah Banten, sehingga kekuasaan Raja semakin terjepit dan rapuh dikarenakan rakyatnya banyak yang memasuki agama Islam. Akhirnya raja beserta senopati dan para ponggawa yang masih setia meninggalkan keraan masuk hutan belantara kearah selatan dan mengikuti Hulu sungai, mereka meninggalkan tempat asalnya dengan tekad seperti yang diucapkan pada pantun upacara Suku Baduy “ Jauh teu puguh nu dijugjug, leumpang teu puguhnu diteang , malipir dina gawir, nyalindung dina gunung, mending keneh lara jeung wiring tibatan kudu ngayonan perang jeung paduduluran nu saturunan atawa jeung baraya nu masih keneh sa wangatua” Artinya : “jauh tidak menentu yang tuju ( Jugjug ),berjalan tanpa ada tujuan, berjalan ditepi tebing, berlindung dibalik gunung, lebih baik malu dan hina dari pada harus berperang dengan sanak saudara ataupun keluarga yang masih satu turunan“.

Keturunan ini yang sekarang bertempat tinggal di kampong Cibeo (Baduy Dalam) dengan cirri-ciri : berbaju putih hasil jaitan tangan (baju sangsang), ikat kepala putih, memakai sarung biru tua (tenunan sendiri) sampai di atas lutut, dan sifat penampilannya jarang bicara (seperlunya) tapi amanah, kuat terhadap Hukum adat, tidak mudah terpengaruh, berpendirian kuat tapi bijaksana.

Versi lain menurut cerita yang menjadi senopati di Banten pada waktu itu adalah putra dari Prabu Siliwangi yang bernama Prabu Seda dengan gelar Prabu Pucuk Umun setelah Cirebon dan sekitarnya dikuasai oleh Sunan Gunung Jati, maka beliau mengutus putranya yang bernama Sultan Hasanudin bersama para prajuritnya untuk mengembangkan agama Islam di wilayah Banten dan sekitarnya. Sehingga situasi di Banten Prabu Pucuk Umun bersama para ponggawa dan prajurutnya meninggalkan tahta di Banten memasuki hutan belantara dan menyelusuri sungai Ciujung sampai ke Hulu sungai , maka tempat ini mereka sebut Lembur Singkur Mandala Singkah yang maksudnya tempat yang sunyi untuk meninggalkan perang dan akhirnya tempat ini disebut GOA/ Panembahan Arca Domas yang sangat di keramatkan. Keturunan ini yang kemudian menetap di kampung Cikeusik ( Baduy Dalam ) dengan Khas sama dengan di kampong Cikeusik yaitu : wataknya keras,acuh, sulit untuk diajak bicara (hanya seperlunya), kuat terhadap hukum Adat, tidak mudah menerima bantuan orang lain yang sifatnya pemberian, memakai baju putih (blacu) atau dari tenunan serat daun Pelah, iket kepala putih memakai sarung tenun biru tua (diatas lutut).


Ada juga yang mengatakan bahwa yang dimaksud suku Pengawinan adalah dari percampuran suku-suku yang pada waktu itu ada yang berasal dari daerah Sumedang, priangan, Bogor, Cirebon juga dari Banten. Jadi kebanyakanmereka itu terdiri dari orang-orang yang melangggar adat sehingga oleh Prabu Siliwangi dan Prabu Pucuk Umun dibuang ke suatu daerah tertentu. Golongan inipun ikut terdesak oleh perkembangan agama Islam sehingga kabur terpencar kebeberapa daerah perkampungan tapi ada juga yang kabur kehutan belantara, sehingga ada yang tinggal di Guradog kecamatan Maja, ada yang terus menetap di kampong Cisungsang kecamatan Bayah, serta ada yang menetap di kampung Sobang dan kampong Citujah kecamatan Muncang, maka ditempat-tempat tersebut di atas masih ada kesamaan cirikhas tersendiri. Adapun sisanya sebagian lagi mereka terpencar mengikuti/menyusuri sungai Ciberang, Ciujung dan sungai Cisimeut yang masing-masing menuju ke hulu sungai, dan akhirnya golongan inilah yang menetap di 27 perkampungan di Baduy Panamping ( Baduy Luar ) desa Kanekes kecamatan Leuwidamar kabupaten Lebak dengan cirri-cirinya ; berpakaian serba hitam, ikat kepala batik biru tua, boleh bepergian dengan naik kendaraan, berladang berpindah-pindah, menjadi buruh tani, mudah diajak berbicara tapi masih tetap terpengaruh adanya hukum adat karena merekan masih harus patuh dan taat terhadap Hukum adat.


Suku Baduy berasal dari daerah di wilayah Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak umumnya sewilayah Banten maka suku Baduy berasal dari 3 tempat sehingga baik dari cara berpakaian, penampilan serta sifatnyapun sangat berbeda Sebutan bagi suku Baduy terdiri dari:


Suku Baduy Dalam yang artinya suku Baduy yang berdomisili di Tiga Tangtu (Kepuunan) yakni Cibeo, Cikeusik dan Cikertawana. 


Suku Baduy Panamping artinya suku Baduy yang bedomisili di luar Tangtu yang menempati di 27 kampung di desa Kanekes yang masih terikatoleh Hukum adat dibawah pimpinan Puuun (kepala adat).


Suku Baduy Muslim yaitu suku Baduy yang telah dimukimkan dan telah mengikuti ajaran agama Islam dan prilakunya telah mulai mengikuti masyarakat luar serta sudah tidak mengikuti Hukum adat.

Kebudayaan Tradisional di Negara Jepang

Sepanjang sejarahnya, Jepang telah menyerap banyak gagasan dari negara-negara lain termasuk teknologi, adat-istiadat, dan bentuk-bentuk pengungkapan kebudayaan. Jepang telah mengembangkan budayanya yang unik sambil mengintegrasikan masukan-masukan dari luar itu. Gaya hidup orang Jepang dewasa ini merupakan perpaduan budaya tradisional di bawah pengaruh Asia dan budaya modern Barat.

Seni pertunjukan tradisional yang masih berjaya di Jepang dewasa ini adalah antara lain kabuki, noh, kyogen dan bunraku.
Kabuki adalah sebuah bentuk teater klasik yang mengalami evolusi pada awal abad ke-17. Ciri khasnya berupa irama kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh para aktor, kostum yang super-mewah, make-up yang mencolok (kumadori), serta penggunaan peralatan mekanis untuk mencapai efek-efek khusus di panggung. Make-up menonjolkan sifat dan suasana hati tokoh yang dibawakan aktor. Kebanyakan lakon mengambil tema masa abad pertengahan atau zaman Edo, dan semua aktor, sekalipun yang memainkan peranan sebagai wanita, adalah pria.
Noh adalah bentuk teater musikal yang tertua di Jepang. Penceritaan tidak hanya dilakukan dengan dialog tapi juga dengan utai (nyanyian), hayashi (iringan musik), dan tari-tarian. Ciri khas lainnya adalah sang aktor utama yang berpakaian kostum sutera bersulam warna-warni, dan mengenakan topeng kayu berlapis lacquer. Topeng-topeng itu menggambarkan tokoh-tokoh seperti orang yang sudah tua, wanita muda atau tua, dewa, hantu, dan anak laki-laki.

Kyogen adalah sebuah bentuk teater klasik lelucon yang dipagelarkan dengan aksi dan dialog yang amat bergaya. Ditampilkan di sela-sela pagelaran noh, meski sekarang terkadang ditampilkan secara tunggal.
Bunraku, yang menjadi populer sekitar akhir abad ke-16, merupakan jenis teater boneka yang dimainkan dengan iringan nyanyian bercerita dan musik yang dimainkan dengan shamisen (alat musik petik berdawai tiga). Bunraku dikenal sebagai salah satu bentuk teater boneka yang paling halus di dunia. 

Berbagai seni tradisional lainnya, seperti upacara minum teh dan ikebana (merangkai bunga), terus hidup sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang. Upacara minum teh (sado atau chado) adalah tata-cara yang diatur sangat halus dan teliti untuk menghidangkan dan minum teh hijau matcha (dalam bentuk bubuk). Ada hal yang lebih penting daripada ritual membuat dan menyajikan teh, karena upacara ini merupakan rangkaian seni yang mendalam yang membutuhkan pengetahuan yang luas dan kepekaan yang sangat halus. Sado juga menjajaki tujuan hidup dan mendorong timbulnya apresiasi terhadap alam.

Seni merangkai bunga Jepang (ikebana), yang mengalami evolusi di Jepang selama tujuh abad, berasal dari sajian bunga Budhis di masa awalnya.

Seni ini berbeda dengan penggunaan bunga yang murni bersifat dekoratif saja, karena setiap unsur dari sebuah karya ikebana dipilih secara sangat cermat termasuk bahan tanaman, wadah di mana ranting dan bunga akan ditempatkan, serta keterkaitan ranting-ranting dengan wadahnya dan ruang di sekitarnya.

KEBUDAYAAN MODERN

Musik klasik masuk ke Jepang dari Barat. Penggemarnya cukup banyak dan sejumlah konser diadakan di berbagai tempat di Jepang. Jepang telah melahirkan banyak konduktor (seperti Ozawa Seiji), pianis, dan pemain biola dan mereka melakukan pertunjukan di seluruh dunia.

Sejak Kurosawa Akira memenangkan Golden Lion Award di Festival Film Venice pada tahun 1951, dunia perfilman Jepang menjadi pusat perhatian dunia, dan karya-karya dari sutradara besar seperti Mizoguchi Kenji dan Ozu Yasujiro mendapat sambutan luas. Pada tahun-tahun terakhir ini, Kitano Takeshi memenangkan Golden Lion Award pada Festival Film Venice 1997 dengan karyanya HANA-BI dan meraih penghargaan sebagai sutradara terbaik pada festival tahun 2003 dengan karyanya Zatoichi.
Film anime (kartun) Jepang yang menjadi hiburan bagi anak-anak Jepang sejak tahun 1960-an, kini diekspor ke seluruh dunia. Ada seri yang menjadi favorit anak-anak seluruh dunia, seperti Astro Boy, Doraemon, Sailor Moon, Detective Conan, dan Dragonball Z. Sementara itu, karya sutradara Miyazaki Hayao, Spirited Away, memenangkan Oscar sebagai film cerita kartun terbaik pada tahun 2003.

Untuk sastra, ada sejumlah pemenang Hadiah Nobel, yaitu Kawabata Yasunari dan Oe Kenzaburo. Sementara itu, karya-karya para pengarang yang lebih modern sepertiMurakami Haruki dan Yoshimoto Banana populer di kalangan kaum muda Jepang dan telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa.

http://www.id.emb-japan.go.jp/expljp_09.html

Samba & Capoera

Samba 

Samba (lafal: [sɐbɐ]) adalah tarian Brasil dan genre musik yang berakar dari Afrika. Hal ini diakui di seluruh dunia sebagai simbol dari Brasil dan Karnaval Brasil. Dianggap sebagai salah satu ungkapan paling populer budaya Brasil, samba telah menjadi ikon identitas nasional Brasil. Samba de Roda (tari lingkaran) dari Bahia, yang menjadi warisan dunia oleh UNESCO bidang kemanusiaan pada tahun 2005, adalah akar utama dari Carioca samba, samba yang dimainkan dan ditarikan di Rio de Janeiro.

Secara tradisional, samba dimainkan dengan senar (cavaquinho dan berbagai jenis gitar) dan berbagai instrumen perkusi seperti tamborim. Dengan pengaruh orkestra Amerika sejak Perang Dunia Kedua dan dampak budaya musik AS pascaperang, mulai digunakan juga instrumen tiup seperti trombon, terompet, choro, flute dan klarinet.

Capoeira 

Capoeira merupakan sebuah olah raga bela diri yang dikembangkan oleh para budak Afrika di Brasil pada sekitar tahun 1500-an. Gerakan dalam capoeira menyerupai tarian dan bertitik berat pada tendangan. Pertarungan dalam capoeira biasanya diiringi oleh musik dan disebut Jogo. Capoeira sering dikritik karena banyak orang meragukan keampuhannya dalam pertarungan sungguhan, dibanding seni bela diri lainnya seperti Karate atau Taekwondo.


Capoeira adalah sebuah sistem bela diri tradisional yang didirikan di Brazil oleh budak-budak Afrika yang dibawa oleh orang-orang Portugis ke Brazil untuk bekerja di perkebunan-perkebunan besar. Pada zaman dahulu mereka melalukan latihan dengan diiringi oleh alat-alat musik tradisional, seperti berimbau (sebuah lengkungan kayu dengan tali senar yang dipukul dengan sebuah kayu kecil untuk menggetarkannya) dan atabaque (gendang besar), dan ini juga lebih mudah bagi mereka untuk menyembunyikan latihan mereka dalam berbagai macam aktivitas seperti kesenangan dalam pesta yang dilakukan oleh para budak di tempat tinggal mereka yang bernama senzala. Ketika seorang budak melarikan diri ia akan dikejar oleh “pemburu” profesional bersenjata yang bernama capitães-do-mato (kapten hutan). Biasanya capoeira adalah satu-satunya bela diri yang dipakai oleh budak tersebut untuk mempertahankan diri. Pertarungan mereka biasanya terjadi di tempat lapang dalam hutan yang dalam bahasa tupi-guarani (salah satu bahasa pribumi di Brazil) disebut caá-puêra – beberapa ahli sejarah berpendapat bahwa inilah asal dari nama seni bela diri tersebut. Mereka yang sempat melarikan diri berkumpul di desa-desa yang dipagari yang bernama quilombo, di tempat yang susah dicapai. Quilombo yang paling penting adalah Palmares yang mana penduduknya pernah sampai berjumlah sepuluh ribu dan bertahan hingga kurang lebih selama enam puluh tahun melawan kekuasaan yang mau menginvasi mereka. Ketua mereka yang paling terkenal bernama Zumbi. Ketika hukum untuk menghilangkan perbudakan muncul dan Brazil mulai mengimport pekerja buruh kulit putih dari negara-negara seperti Portugal, Spanyol dan Italia untuk bekerja di pertanian, banyak orang negro terpaksa berpindah tempat tinggal ke kota-kota, dan karena banyak dari mereka yang tidak mempunyai pekerjaan mulai menjadi penjahat. Capoeira, yang sudah menjadi urban dan mulai dipelajari oleh orang-orang kulit putih, di kota-kota seperti Rio de Janeiro, Salvador da Bahia dan Recife, mulai dilihat oleh publik sebagai permainan para penjahat dan orang-orang jalanan, maka muncul hukum untuk melarang Capoeira. Sepertinya pada waktu itulah mereka mulai menggunakan pisau cukur dalam pertarungannya, ini merupakan pengaruh dari pemain capoeira yang berasal dari Portugal dan menyanyikan fado (musik tradisional Portugis yang mirip dengan keroncong). Pada waktu itu juga beberapa sektor yang rasis dari kaum elit Brazil berteriak melawan pengaruh Afrika dalam kebudayaan negara, dan ingin “memutihkan” negara mereka. Setelah kurang lebih setengah abad berada dalam klandestin, dan orang-orang mepelajarinya di jalan-jalan tersembunyi dan di halaman-halaman belakang rumah, Manuel dos Reis Machado, Sang Guru (Mestre) Bimba, mengadakan sebuah pertunjukan untuk Getúlio Vargas, presiden Brazil pada waktu itu, dan ini merupakan permulaan yang baru untuk capoeira. Mulai didirikan akademi-akademi, agar publik dapat mempelajari permainan capoeira. Nama-nama yang paling penting pada masa itu adalah Vicente Ferreira Pastinha (Sang Guru Pastinha), yang mengajarkan aliran “Angola”, yang sangat tradisional, dan Mestre Bimba, yang mendirikan aliran dengan beberapa inovasi yang ia namakan “Regional”.


Sejak masa itu hingga masa sekarang capoeira melewati sebuah perjalanan yang panjang. Saat ini capoeira dipelajari hampir di seluruh dunia, dari Portugal sampai ke Norwegia, dari Amerika Serikat sampai ke Australia, dari Indonesia sampai ke Jepang. Di Indonesia capoeira sudah mulai dikenal banyak orang, disamping kelompok yang ada di Yogyakarta, juga terdapat beberapa kelompok di Jakarta. Banyak pemain yang yang berminat mempelajari capoeira karena lingkungannya yang santai dan gembira, tidak sama dengan disiplin keras yang biasanya terdapat dalam sistem bela diri dari Timur. Seperti yang pernah dikatakan oleh seorang penulis besar dari Brazil Jorge Amado, ini “pertarungan yang paling indah di seluruh dunia, karena ini juga sebuah tarian”. Dalam capoeira teknik gerakan dasar dimulai dari “ginga” dan bukan dari posisi berhenti yang merupakan karateristik dari karate, taekwondo, pencak silat, wushu kung fu, dll...; ginga adalah gerakan-gerakan tubuh yang berkelanjutan dan bertujuan untuk mencari waktu yang tepat untuk menyerang atau mempertahankan diri, yang sering kali adalah menghindarkan diri dari serangan. Dalam roda para pemain capoeira mengetes diri mereka, lewat permainan pertandingan, di tengah lingkaran yang dibuat oleh para pemain musik dengan alat-alat musik Afrika dan menyanyikan bermacam-macam lagu, dan pemain lainnya bertepuk tangan dan menyanyikan bagian refrein. Lirik lagu-lagu itu tentang sejarah kesenian tersebut, guru besar pada waktu dulu dan sekarang, tentang hidup dalam masa perbudakan, dan perlawanan mencapai kemerdekaan. Gaya bermain musik mempunyai perbedaan ritme untuk bermacam-macam permainan capoeira, ada yang perlahan dan ada juga yang cepat.



Capoeira tidak saja menjadi sebuah kebudayaan, tetapi juga sebuah olahraga nasional Brazil, dan para guru dari negara tersebut membuat capoeira menjadi terus menerus lebih internasional, mengajar di kelompok-kelompok mahasiswa, bermacam-macam fitness center, organisasi-organisasi kecil, dll. Siswa-siswa mereka belajar menyanyikan lagu-lagu Capoeira dengan bahasa Portugis – “Capoeira é prá homi, / mininu e mulhé...” (Capoeira untuk laki-laki, / anak-anak dan perempuan).



Di Indonesia, sama seperti di negara-negara yang lain, kemungkinan Capoeira akan semakin berkembang.



Beberapa gerakan dalam Capoeira:



Ginga
Handstand
Backflip
Headspin
Handstand Whirling

Deli


 
Menurut Hikayat Deli, seorang pemuka Aceh bernama Muhammad Dalik berhasil menjadi laksamana dalam Kesultanan Aceh. Muhammad Dalik, yang kemudian juga dikenal sebagai Gocah Pahlawan dan bergelar Laksamana Khuja Bintan (ada pula sumber yang mengeja Laksamana Kuda Bintan), adalah keturunan dari Amir Muhammad Badar ud-din Khan, seorang bangsawan dari Delhi, India yang menikahi Putri Chandra Dewi, putri Sultan Samudera Pasai. Dia dipercaya Sultan Aceh untuk menjadi wakil bekas wilayah Kerajaan Haru yang berpusat di daerah sungai Lalang-Percut.
 
Dalik mendirikan Kesultanan Deli yang masih di bawah Kesultanan Aceh pada tahun 1630. Setelah Dalik meninggal pada tahun 1653, putranya Tuanku Panglima Perunggit mengambil alih kekuasaan dan pada tahun 1669 mengumumkan memisahkan kerajaannya dari Aceh. Ibu kotanya berada di Labuhan, kira-kira 20 km dari Medan.



Sebuah pertentangan dalam pergantian kekuasaan pada tahun 1720 menyebabkan pecahnya Deli dan dibentuknya Kesultanan Serdang. Setelah itu, Kesultanan Deli sempat direbut Kesultanan Siak Sri Indrapura dan Aceh. Pada tahun 1858, Tanah Deli menjadi milik Belanda setelah Sultan Siak, Sultan Al-Sayyid Sharif Ismail, menyerahkan tanah kekuasaannya tersebut kepada mereka. Pada tahun 1861, Kesultanan Deli secara resmi diakui merdeka dari Siak maupun Aceh. Hal ini menyebabkan Sultan Deli bebas untuk memberikan hak-hak lahan kepada Belanda maupun perusahaan-perusahaan luar negeri lainnya. Pada masa ini Kesultanan Deli berkembang pesat. Perkembangannya dapat terlihat dari semakin kayanya pihak kesultanan berkat usaha perkebunan terutamanya tembakau dan lain-lain. Selain itu, beberapa bangunan peninggalan Kesultanan Deli juga menjadi bukti perkembangan daerah ini pada masa itu, misalnya Istana Maimun.
 
Kesultanan Deli masih tetap eksis hingga kini meski tidak lagi mempunyai kekuatan politik setelah berakhirnya Perang Dunia II dan diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia.

Suku Korowai


Suku Korowai mempunyai populasi 3.000 orang dan merupakan salah satu suku paling aneh di dunia. Mereka tinggal di Papua New Guinea dan budaya mereka masih tetap terisolasi dari peradaban modern. Mereka memiliki banyak kebiasaan aneh dan beberapa dari mereka juga ada yang kanibal.


www.harald-melcher.de

archive.kaskus.co.id 


www.kidnesia.com

Seperti kenyataannya bahwa mereka hidup dengan cara suku mereka sendiri yang cukup aneh, mereka membangun rumah mereka di pohon-pohon yang sangat tinggi supaya tidak diganggu oleh binatang. Di sini Anda dapat melihat beberapa foto yang menunjukkan beberapa rumah mereka yang megah dan beberapa foto yang menunjukkan proses pembangunan bangunan tersebut.


raja-alamnews.blogspot.com


indonesiaindonesia.com


www.gaptekupdate.com


travel.detik.com -


shnews.co

Namun sangat jarang ditemukan literatur mengenai mereka dalam bahasa Indonesia. Justru banyak peneliti asing yang mengunjungi mereka dan mempelajari kehidupan suku mereka yang unik.

Catatan Kaki :
http://indonesiaindonesia.com/f/88249-budaya-suku-korowai-papua-rumah-pohon/