Teleskop Hubble

Teleskop Hubble dan Sejarahnya
Teleskop Hubble dan Sejarahnya - Tata Surya hanyalah potongan kecil. Mungkin, boleh dibilang, Matahari beserta planet-planet mengorbitinya hanya secuil dari satu kue tart besar. Jadi, tentu saja kita tidak sendirian. Bukan tak mungkin ada kehidupan lain selain kehidupan di Bumi.

Galaksi Bima Sakti pun tidak sendirian. Masih ada ribuan galaksi lain yang ada di alam semesta. Tapi, tidak pernah ada yang tahu hal itu sebelum ilmuwan menciptakan sebuah perangkat mutakhir, sebuah teleskop yang mampu mengintip isi alam semesta di sekeliling Bumi. Perangkat itu bernama Hubble.
Teleskop Hubble dan Sejarahnya
Hubble adalah sebuah teleskop luar angkasa yang berada di orbit Bumi. Namanya diambil dari nama seorang ilmuwan terkenal Amerika, Edwin Hubble, yang tidak lain adalah penemu hukum Hubble, yang berlaku di dalam astronomi. Asal Anda tahu, sebagian besar benda-benda angkasa yang berhasil diidentifikasi sampai hari ini adalah berkat jasa teleskop Hubble.

Diluncurkan 1990

Cikal-bakal teleskop Hubble dimulai pada tahun 1923. Melansir Wikipedia, sejumlah badan antariksa di Bumi, termasuk NASA, European Space Agency (ESA), dan Space Telescope Science Institute, merekomendasikan untuk membangun sebuah teleskop angkasa raksasa. Mengingat harganya yang mahal, yakni senilai 1,5 miliar dollar AS, dana kolektif yang terkumpul pun memakan waktu hampir lima dekade lamanya.

Sekitar era 1970-an, dana untuk projek tersebut mulai terlihat. Sempat akan diluncurkan pada tahun 1983, peluncuran Hubble batal karena isu teknis, kekurangan dana, dan trauma kecelakaan Challenger yang masih membekas. Akhirnya, projek peluncuran Hubble sukses dilakukan pada 24 April 1990.

Hari ini, Hubble masih melayang-layang mengorbiti Bumi setinggi 559 kilometer di atas permukaan laut. Memakai reflektor (pemantul cahaya) Ritchey-Chretien, teleskop dengan lensa utama berdiameter 2,4 meter ini mampu menyuguhkan citra objek-objek antariksa yang jaraknya jauh sekali dari Bumi.

Dengan laju 28.000 kilometer per jam, Hubble mampu mengelilingi Bumi dalam waktu 97 menit. Energi Hubble berasal dari dua panel surya yang dapat menyediakan daya 2.800 watt. Daya ini yang dibutuhkan teleskop berbobot kurang lebih satu ton, atau seukuran satu bus kota, setiap kali mengorbit.

Sekadar diketahui, jarak galaksi terjauh yang ditangkap oleh Hubble mencapai 10 miliar tahun cahaya. Jika satu tahun cahaya setara dengan 9,5 triliun kilometer, sungguh sulit membayangkan jarak yang berhasil dipantau oleh teleskop Hubble. Sebagai perbandingan saja, Bulan sebagai benda langit terdekat dengan Bumi, jaraknya sekitar 385 ribu kilometer dari Bumi.


Read more: http://putracenter.blogspot.com/2013/12/teleskop-hubble-dan-sejarahnya.html#ixzz2sHnVyBHY

Aung San Suu Kyi

{mosimage} Aung San Suu Kyi (dibaca Aung Sawn Su Chee) adalah salah satu tokoh pembebasan dan anti kekerasan yang terkenal di dunia, ia telah menjadi tokoh pejuang demokrasi bagi rakyat Burma (sekarang Myanmar) sejak tahun 1988. Suu Kyi lahir pada tanggal 19 Juni 1945, anak kedua dari 3 bersaudara, adiknya meninggal karena tenggelam pada usia sangat muda sedangkan kakaknya akhirnya menetap dan menjadi warga negara Amerika di San Diego California.
Pada tanggal 19 Juli 1947 pada saat Suu Kyi berumur 2 tahun ayahnya dibunuh, Ibunya kemudian menjadi tokoh gerakan sosial yang ternama, memimpin sebuah badan perencanaan dan kebijakan sosial . Pada tahun 1960 Ibunya pergi ke India menemui Duta Besar Burma untuk India dan sejak saat itulah Suu Kyi melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah dan Perguruan Tinggi Shri Ram. Kemudian pada tahun 1964 ia melanjutkan pendidikan di Universitas Oxford dan memperoleh gelar B.A di bidang Filsafat, Politik dan Ekonomi pada tahun 1967.
Selama di Inggris, Suu Kyi tinggal bersama kedua orang tua angkatnya bangsawan Lord Gore-Booth mantan duta besar Inggris untuk Burma dan Komite Tinggi di India dan istrinya. Selama tinggal dengan orang tua angkatnya inilah Aung San Suu Kyi berkenalan dengan Michael Aris seorang mahasiswa yang mengambil jurusan Peradaban Tibet, seorang yang kelak menjadi suaminya. Pada tahun 1969 Suu Kyi kembali melanjutkan studinya ke New York dan tinggal bersama sahabat keluarga mereka yang bernama Ma Than E, seorang staff di PBB yang pada saat itu dipimpin oleh U Thant dari Burma.

Setelah menyelesaikan pendidikannya Suu Kyi bergabung di Sekretariat PBB sebagai asisten sekretaris, komite penasehat administrasi dan keuangan. Pada sore hari dan akhir pekan Suu Kyi menjadi relawan di salah satu rumah sakit, membantu pasien-pasien yang berasal dari keluarga miskin untuk mengajarkan mereka membaca dan persahabatan. Pada tanggal 1 Januari 1972 Michael Aris dan Aung San Suu Kyi menikah, kemudian Suu Kyi mendampingi suaminya pergi ke Bhutan untuk menjadi pengajar bagi keluarga Kerajaan Bhutan di pegunungan Himalaya dan memimpin Departemen Penerjemah sementara Suu Kyi bekerja sebagai peneliti pada kementerian luar negeri Kerajaan Bhutan.
Tahun 1973 mereka kembali ke London untuk melahirkan putra pertama; Alexander, kesempatan ini juga dimanfaatkan Michael Aris untuk memperdalam pendidikannya di bidang Kajian Tibet dan Himalaya di Oxford University. Putera kedua pasangan ini, Kim lahir pada tahun 1977 dan pada masa inilah Suu Kyi mulai menulis, meneliti Biografi Ayahnya dan mendampingi suaminya melakukan kajian-kajian tentang Himalaya. Dari hasil riset terhadap biografi ayahnya inilah Suu Kyi pada tahun 1984 menerbitkan sebuah buku berjudul “Aung San” di sebuah seri pemimpin Asia yang diterbitkan oleh lembaga penerbit Universitas Queensland. Untuk bacaan kaum muda, Suu Kyi menerbitkan buku “Let’s Visit Burma” juga buku mengenai Nepal dan Bhutan pada seri yang sama yang diterbitkan oleh perusahaan penerbitan Burke, London.

Pada tahun 1985 Suu Kyi mendapat kesempatan berkunjung ke Pusat Kajian Asia Tenggara di Universitas Kyoto-Jepang tempat dimana ia melakukan riset terhadap masa-masa kunjungan ayahnya di Jepang. Putera bungsunya, Kim bersamanya saat itu sedangkan Alexander bersama Michael yang sedang menghadiri program persahabatan di sebuah institut di Simla-India Utara. Sebagai penganut Buddhis, Michael dan Suu Kyi memberikan kesempatan kepada kedua putera mereka untuk ambil bagian dalam sebuah upacara tradisional Buddhis menjadi samanera sementara, pada sebuah kunjungan rutin mereka tahun 1986 ke Rangon untuk menjenguk sang nenek; Daw Khin Kyi.

Dari Jepang kemudian Suu Kyi dan Kim bergabung dengan Michael dan Alex di Simla-India pada tahun 1987, kemudian di tahun yang sama ia menerbitkan”Socio-Political Currents in Burmese Literature 1910-1940” di sebuah jurnal di Universitas Tokyo. Tahun ini pula Suu Kyi dan keluarga kembali ke London untuk menemani Ibunya menjalani operasi katarak, kemudian Suu Kyi bekerja di program paska sarjana Perguruan London untuk Kajian Oriental dan Afrika.

Awal bersejarah kembalinya Suu Kyi ke Rangon adalah karena mendapat telepon yang mengabarkan bahwa sang Ibu, Daw Khin Kyi mengalami stroke pada tanggal 31 Maret 1988, Suu Kyi merawat dan mendampingi ibundanya di rumah sakit, kemudian memindahkannya ke rumah mereka di lingkungan sebuah universitas dekat danau Inya di Rangon. Pada saat inilah terjadi pengunduran diri Jenderal Ne Win seorang diktator yang memimpin Burma sejak 1962, hari itu tepat tanggal 23 Juli 1988, para demonstran yang melakukan aksi-aksi protes terus berlanjut hingga meluas dan menjadi aksi demonstrasi massa yang sangat besar dan luas di hampir seluruh wilayah Burma pada tanggal 8 Agustus 1988, pemerintahan militer membalas aksi dengan melakukan tindakan kekerasan yang mengakibatkan terbunuhnya ribuan orang.

Karena menyadari betapa menderitanya rakyat Burma akibat kesewenang-wenangan pemerintahan militer inilah Aung San Suu Kyi memulai aksi politiknya yang pertama pada tanggal 15 Agustus yakni dengan mengirimkan surat terbuka kepada pemerintah, mempertanyakan susunan Komite Konsultatif Independen untuk Pemilu multi partai, selanjutnya tanggal 26 Agustus ia melakukan orasi di depan Shwedagon Pagoda yang dihadiri oleh ribuan orang untuk menuntut pemerintahan yang demokratis, suami dan kedua puteranya turut mendampinginya. Militer yang mulai gerah dengan manuver Suu Kyi kemudian membentuk State Law and Order Restoration Council (SLORC) tanggal 18 September, pertemuan politik yang dihadiri lebih dari empat orang dilarang, penangkapan dan interograsi tanpa pengadilan mulai terjadi terhadap para aktivis. Di tengah-tengah kondisi politik memanas inilah National League for Democracy (NLD) didirikan yakni pada tanggal 24 September, Aung San Suu Kyi terpilih sebagai Sekretaris Jenderal. Kebijakan partai adalah anti kekerasan dan pembangkangan sipil. Tiga bulan selanjutnya Suu Kyi aktif melakukan orasi-orasi ke berbagai daerah dengan melibatkan massa dalam jumlah yang sangat besar menentang larangan yang dibuat SLORC.

Pada saat meninggalnya Daw Khin Kyi; sang Ibunda, tanggal 27 Desember 1988 pada usia 76 tahun yang pemakamannya dihadiri oleh ratusan ribu orang tanggal 2 Januari 1989 itu, Aung San Suu Kyi menyatakan bahwa sebagaimana Ayah dan Ibunya yang telah mengabdikan seluruh hidupnya bagi rakyat Burma, maka ia pun bersumpah akan berjuang bagi rakyat Burma hingga kematian menjemputnya. Hingga juli kemudian ia terus melakukan kampanyenya walaupun intimidasi, penangkapan dan pembunuhan oleh tentara terus berlanjut. Menjelang pemilihan umum, tanggal 17 Februari Suu Kyi dinyatakan dilarang mengikuti pemilu. Pada tanggal 5 April terjadi sebuah tragedi di Delta Sungai Irawaddy pada saat itu dengan sangat berani Aung San Suu Kyi berjalan menuju para tentara yang ingin menangkapnya. Selanjutnya Suu Kyi dijebloskan dalam tahanan rumah, tanpa tuntutan ataupun pengadilan.

Kedua puteranya turut mendampingi, Michael dating pada hari ketiga, pada saat itu Aung San Suu Kyi melakukan mogok makan selama 3 hari meminta agar dirinya dikirim ke penjara bergabung bersama-sama mahasiswa yang ditahan disana, aksi ini berhenti setelah militer berjanji akan memperlakukan para mahasiswa dengan lebih baik. Karena merasa tidak mampu mempertahankan cengkeramannya terhadap kekuasaan, junta militer kemudian mempercepat pelaksanaan pemilu pada tahun 1990. Hasilnya adalah kemenangan NLD dengan menguasai 82% kursi di parlemen. SLORC menolak hasil pemilu ini dan tetap mempertahankan pemerintahan junta militernya.

Aung San Suu Kyi telah memenangkan banyak penghargaan internasional, 12 Oktober 1990 ia dianugerahi Penghargaan HAM Rafto, Penghargaan HAM Sakharov dari Parlemen Eropa 10 Juli1991, pemenang Penghargaan Perdamaian 1991 dari Komite Nobel Norwegia pada tanggal 14 Oktober 1991, Medali Kemerdekaan dari Kepresidenan Amerika Serikat, dan Penghargaan Jawaharlal Nehru-India. 10 Desember 1991 mendapatkan Penghargaan Nobel Perdamaian. Pada tahun yang sama buku “Freedom from Fear” diterbitkan oleh Penguin di New York, Inggris, Kanada, Australia, New Zealand, juga diterjemahkan dalam berbagai bahasa seperti Norwegia, Perancis dan Spanyol.

Setelah memperoleh Nobel, Suu Kyi mengumumkan pada tahun 1992 bahwa hadiah berupa uang sebesar US$ 1,3 juta akan digunakan untuk membangun kesehatan dan pendidikan bagi rakyat Burma. Pada tahun 1993, sekelompok penerima Nobel tidak diijinkan memasuki Burma oleh pemerintah militer, kemudian mereka mendatangi para pengungsi Burma di perbatasan Thailand dan menyerukan pembebasan Aung San Suu Kyi. Seruan mereka kemudian dikumandangkan kembali di Komisi HAM PBB di Jenewa. Kontak pertama Suu Kyi dengan orang luar selain keluarganya sejak ditahan adalah pada tahun 1994 yakni pada bulan februari, pemerintahan junta militer Burma mengijinkan perwakilan PBB, anggota kongres Amerika, dan reporter New York Times. Kemudian bulan September-Oktober pimpinan SLORC menemui Suu Kyi yang terus menuntut diadakannya dialog publik.

10 Juli 1995 akhirnya Aung San Suu Kyi dibebaskan setelah 6 tahun penahanan, namun pemerintah Junta Militer Burma yang senantiasa gentar oleh keberanian dan konsistensi Suu Kyi kembali menahannya pada tahun 2000-2002 tanpa alasan yang jelas, kemudian kembali ditahan dibalik jeruji bulan Mei 2003 dengan alasan keamanan dirinya, setelah peristiwa berdarah yang menewaskan lebih dari 100 orang pendukungnya karena di serang oleh kroni-kroni rejim militer dan narapidana yang sengaja dilepaskan untuk mengacaukan pertemuan Suu Kyi dengan para pendukungnya. Ia kemudian dipindahkan dari penjara kembali ke tahanan rumah pada akhir 2003 dan ditahan hingga saat ini.

Selama dalam tahanan Suu Kyi benar-benar diisolasi dari dunia luar, beberapa kesempatan untuk bebas sebenarnya di dapat Suu Kyi, misalnya saat suaminya sakit ia diberi ijin dan dibujuk pemerintah junta militer untuk menjenguk ke London namun Suu Kyi menolak karena ia tahu, sepulang dari London pemerintah tidak akan memberikan ijin masuk kembali ke Burma. Karenanya ia memilih tetap ditahanan dan meneruskan perjuangannya membebaskan rakyat Burma bahkan saat suaminya meninggal karena kanker prostat di London tanggal 27 Maret 1999 pun Suu Kyi tidak dapat menghadiri pemakamannya. Ia harus merelakan kepentingan-kepentingan dan emosi pribadinya dikorbankan demi kepentingan besar seluruh rakyat Burma. Sebelumnya Michael Aris sempat membuat petisi agar ia diijinkan menjenguk Suu Kyi untuk terakhir kalinya namun ditolak oleh penguasa Burma, terakhir kali pertemuan Suu Kyi dan keluarganya adalah pada akhir tahun 1995. Aung San Suu Kyi hingga hari ini terus berjuang dari balik tahanan dan terus menyerukan kepada dunia untuk membantu perjuangan demi pembebasan di Burma, dengan mengatakan “Please use your liberty to promote ours”

sumber : http://hikmahbudhi.or.id/?p=33
gambar : http://depesimaginarium.blogspot.com/2010/12/ra-kartini-aung-san-suu-kyi-dhanny.html

Sekolah Retorika

“Quantilianus, tidak ada anugerah yang lebih indah, yang diberikan oleh dewa, daripada keluhuran bicara.”
A. Pengertian

Sekolah asal kata dari schola, scholae dan schola dalam terjemahan bahasa yunani yang bermakna waktu luang. Sedangkan retorika atau bahasa Inggris disebut rhetoric bersumber dari bahasa Latin rhetoricha yang berarti ilmu bicara. Singkat kata penyaji makalah hanya mengajak kawan-kawan untuk mengenal retorika yakni ilmu bicara dengan kesempatan waktu luang yang dimliki oleh kita semua yakni mahasiswa.

Pada abad ke 5 sebelum Masehi untuk pertama kali dikenal suatu ilmu yang mengkaji proses pernyataan antar manusia sebagai fenomena social. Ilmu ini dinamakan dalam bahasa Yunani “rhetorhike” yang dikembangkan di Yunani Purbakala. Kemudian, abad-abad berikutnya dikembangkan di Romawi dalam bahasa Latin “retorika” (dalam bahasa inggris “rhethoric” dalam bahasa Indonesia “retorika” ).

1. Socrates; Retorika adalah demi kebenaran dengan dialog sebagai tekniknya, karena dengan dialog kebenaran akan timbul dengan sendirinya.

2. Georgias; Retorika adalah ilmu yang mempelajari dan menelaah pernyataan manusia.


3. Protagoras; Retorika adalah kemahiran berbicara bukan demi kemenangan, melainkan keindahan bahasa.

4. Plato; Retorika adalah sebuah metode pendidikan dalam rangka mencapai kedudukan dalam pemerintahan dan dalam rangka upaya mempengaruhi rakyat.


5. Aristoteles; Retorika adalah seni persuasi, suatu uraian yang harus disingkat, jelas dan meyakinkan dengan keindahan bahasa yang disusun untuk hal-hal yang memperbaiki (corrective), memerintah (instructive), mendorong (suggestive) dan mempertahankan (defensive).

6. Cicero; kecakapan retorika menjadi ilmu, sistematika retorika mencakup dua tujuan pokok yang bersikap “suassio” (anjuran) dan “dissuasio” (penolakan).




B. Sejarah Retorika

1. Retorika dizaman Yunani

Para ahli komunikasi berpendapat bahwa retorika sudah ada sejak zaman manusia ada. Tetapi retorika sebagai seni komunikasi mulai dipelajari pada abad ke 5 SM. Ketika kaum Sofis di Yunani mengembara dari tempat ke satu ke tempat yang lain untuk mengajarkan pengetahuan mengenai politik dan pemerintahan dengan penekanan pada kemampuan berpidato. Kemudian, ditandai juga dengan berdirinya sekolah retorika pada tahun 392 Masehi Oleh Sokrates yang menekankan pada pidato-pidato politik. Kemudian, Demmosthenes (384-322) pada zaman yunani yang sangat termashur disebabkan kegigihannya mempertahankan kemerdekaan Athena dari ancaman Raja Philippus dari Macedonia. Selanjutnya, Syracuse sebuah koloni Yunani dipulau Sicilia. Bertahun-bertahun koloni itu diperintah para tiran. Tiran, dimanapun dan zaman apapun, senang menggusur tanah rakyat. Kira-kira tahun 465 SM, rakyat melancarkan revolusi. Dictator ditumbangkan dan demokrasi ditegakkan. Pemerintah mengembalikan lagi tanah kepada rakyatnya.

Disinilah kemusykilan terjadi. Untuk mengambil haknya, pemilik tanah harus sanggup meyakinkan dewan juri dipengadilan. Waktu itu, tidak ada pengacara dan tidak ada sertifikat tanah. Setiap orang harus meyakinkan mahkamah dengan pembicaraan saja. Sering orang tidak berhasil memperoleh kembali tanahnya, hanya karena ia tidak pandai bicara.1jalaluddin rakhmat. Retorika Modern Pendekatan Praktis. (Bandung: Remaja Rosdakarya. 2009) hal. 2-3

2. Retorika dizaman Romawi Kuno

Marcus Tulis (106-43 SM) adalah pengembang retorika yang terkenal dengan suaranya dan bukunya yang berjudul de Orator. Sebagai orator yang ulung, Cicero mempunyai suara yang berat mengalun pada suatu saat keras menggema diwaktu lain merayu bahkan kadang-kadang pidatonya disertai cucuran air mata.

3. Retorika dizaman Modern

Abad ke 17 di Eropa muncul tokoh-tokoh yang dikenal sebagai orator kenamaan antara lain Oliver Cromwell dan Lord Bollingbroke (Inggris). Tokoh retorika lain di Inggris adalah Henry Bollingbroke. Kemudian, abad ke 20 yang terkenal di Inggris adalah Sir Wiston Chur-chil pada saat dunia berkecamuk. Churchil terkenal karena keberhasilannya dalam menggerakkan bangsa inggris yang mula-mula anti perang untuk melawan Nazi Jerman sehingga terbangkitlah keberanian rakyat Inggris. Jerman Adolf Hitler (Pemimpin Nazi), Jeans Jaures abad ke 20 dari Perancis. Di Amerika Serikat ada Abraham Lincoln.

C. Pembagian Retorika

1. Monologika; Monologika adalah ilmu tentang seni berbicara secara monolog, dimana seorang yang hanya biacara. Bentuk-bentuk yang tergolong dalam monologika adalah pidato, kata sambutan, kuliah, makalah, ceramah dan deklamasi.

2. Dialogika; Dialogika adalah ilmu tentang seni berbicara secara dialog, dimana dua orang atau lebih berbicara atau mengambil bagian dalam satu proses pembicaraan. Bentuk dialogika yang penting adalah diskusi, Tanya jawab, perundingan, percakapan dan debat.

3. Pembinaan Teknik Berbicara; Efektivitas monologika dan dialogika tergantung juga pada tekhnik bicara. Teknik bicara merupakan syarat bagi retorika. Oleh karena itu pembinaan teknik bicara merupakan bagian yang penting dalam retorika. Dalam bagian ini lebih diarahkan pada pembinaan tekhnik bernafas, tekhnik mengucap, bina suara, tekhnik membaca, dan bercerita.



Untuk Dia


My Lovely. Jika, ditanya kenapa seorang Demonstran itu Dramatis. Bukan karena sok Alay ke Koreaan Selatan, Boy Band, dan sok Intelektual dan Revolusioner.

Tapi, itu dikarenakan relaksasi kehidupan yang serba kontradiksi, kejam, konkrit, objektif dan menjadi fase historis ketika hal yang positif telah ia lakukan.

Mungkin dunia yang ia hadapi sangat berbeda dengan aktivitas manusia yang sepantasnya. Karena juga kesehariannya taring-taring dan duri-duri kehidupannya yang sering mengancam gerak-gerik dimana ia akan melangkah.

Jadi hal yang wajar seorang Demonstran bukan menjadi orang yang lantang bila berhadapan dengan My Lovely_nya. Tapi, karena ia diajarkan dalam mengenal identitas diri keadilan, penindasan, dan kebenaran harus Setia. Sebaliknya dengan My Love_nya.

"Setiaku Untukmu....
Mimpiku hanya Untukmu....
Selebihnya tidak akan ada kata henti-hentinya....
Aku berteriak dalam hatiku...."Me to Love You. My Lovely"


Thanks atas segalanya....

Semoga tidak akan pernah bosan dengan perilakuku yang Dramatis. Tujuannya hanya satu.
Asalkan My Lovely Senang & Bahagia.



From


My Love_ly
------------------------------------------------------------------------------------
"aktivis dilukiskan sebagai individu yang sulit dipahami oleh ibunya sendiri. Dalam artikata ia melawan kebiasaan lazim yang pernah hidup dalam keluarga dan tidak mau untuk menjadi pekerja yang menghabiskan hidupnya dalam rutinitas." (Ben Anderson dalam Cerpen Thailand Karya Whitayakon Chiangkuah)
----------------------------------------------------------

Lagi-lagi Rakyat Dimarjinalisasikan 637 Hektar Lahan Rakyat Digusur

Paguyuban Wahana Tri Tunggal Longmarch Tolak Bandara Temon

LONGMARCH - Ratusan warga yang tergabung dalam paguyuban Wahana Tri Tunggal melakukan aksi longmarch menuju Baklai Desa Palihan, kecamatan Temon, sembari membawa berbagai spanduk dan poster penolakan bandara, kemarin (21/11).

Penolakan atas Bandara Internasional di Kulonprogo
=======================


Master Plan Bandara Kulonprogo
(JIBI/Harain Jogja/Dok)
Kami Rakyat !!!!

“Silakan bangun bandara di laut atau di mana, asal jangan di atas lahan kami. Sampai kiamat, kami akan menolak!” kata juru bicara Wahana Tri Tunggal, Martono, pada 2 Mei 2013. Ada sekitar 600 warga setempat yang menyatakan menolak meski pemerintah memberi ganti rugi. “Ya, silakan bagi warga yang menerima. Tapi, kami yang menolak, ya, tetap menolak dengan ganti rugi apapun,” kata Martono, "Kalau pemerintah nekad, kami lebih nekad!”.

http://www.tempo.co/read/news/2013/05/28/058483925/Bangun-Bandara-Baru-Yogya-Gusur-Ratusan-Keluarga

Harapan Rakyat !!!!

Aksi berjalan kaki para warga desa Glagah, Sindutan dan Palihan itu dimulai dari titik kumpul di Gereja Palihan menuju Balai Desa Palihan, kecamatan Temon. Lalulintas di jalan Purworejo-Yogyakarta sempat terhenti beberapa menit ketika rombongan warga melintas. Warga kemudian masuk ke dalam Balai Desa ditemui perangkat desa, camat Temon, Kapolsek dan Danramil.

Sesepuh WTT, Sarijo, mengatakan bahwa warga tetap berkomitmen menolak rencana hadirnya bandara internasional di wilayah Temon. Pihaknya meminta pemerintah desa lebih peka terhadap aspirasi penolakan dari warga tersebut.

"Masyarakat sudah semakin was-was dengan rencana itu. Kami menolak pembangunan bandara itu dan tidak ingin tergusur dari tanah kami," kata dia.

Kesimpangsiuran informasi seputar proyek tersebut yang terjadi selama ini juga sangat meresahkan warga. Hal itu diperparah dengan sikap diam pemerintah yang tak juga kunjung memberi penjelasan pada warga. Warga lainnya, Sudirman, mengatakan bahwa belakangan ini beredar kabar menyesatkan bahwa warga yang menolak pembangunan tersebut nantinya akan diciduk petugas.

Hal ini jelas sangat mengintimidasi warga dan membuat warga tertekan. Dia menyayangkan sikap pemerintah Kabupaten Kulonprogo dan jajarannya yang terkesan tidak memberi penjelasan apapun terhadap warga.
"Lihat saja di pertemuan ini. Bupati, Sekda, atau yang mewakilinya tidak ada yang hadir. Seolah-olah melemparkan tanggungjawab pada bawahannya karena tidak mau ditekan," serunya.

Dia menegaskan, masyarakan setempat tidak membutuhkan bandara. Karena, kehadiran bandara tersebut nantinya hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu saja. Sementara, rakyat kecil justru menderita dan kehilangan tanahnya. "Kalau bupatinya pintar, tanpa bandara pun Kulonprogo bisa maju," imbuhnya.

http://jogja.tribunnews.com/2013/11/22/paguyuban-wahana-tri-tunggal-longmarch-tolak-bandara-temon/

Click here to see a large version


Click here to see a large version









Pusat strategis Proyek Bandara
13640996891924089397
Lahan Pertanian yang akan dijadikan Bandara
1364099917404506847

Pernyataan Kepala Daerah Setempat
(MP3EI, JMI Magasa Iron & PT Angkasa Pura)
---------------------------------

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Meski gelombang penolakan warga terus meningkat, Pemda DIY tidak akan turun tangan dan ikut mengintervensi proses sosialisasi pembangunan megaproyek bandara di Kulonprogo. Proses sosialisasi tentang bandara sepenuhnya merupakan tanggungjawab Pemkab Kulonprogo. Sedangkan Pemda DIY bertugas dalam kepengurusan perizinannya.

“Kan sudah ada Pokja-pokjanya sesuai dengan SK Gubernur. Pemda DIY tidak akan action apapun,” ucap Kepala Bappeda DIY Tavip Agus Rayanto dijumpai di kantornya, Rabu (15/1/2014).

Baginya, respon penolakan warga ialah hal lumrah karena proyek bandara ini memang bukanlah proyek padat karya yang serta merta menyerap tenaga kerja dari warga setempat. Bandara tentu lebih membutuhkan tenaga kerja teknis dengan dukungan teknologi tinggi. Karenanya, dalam proses sosialisasi itupun, Pemkab harus memikirkan peran warga setempat setelah bandara ini jadi. Tidak sekedar tanahnya dibeli saja. Tapi bagaimana agar masyarakat sekitar ini juga punya peran dan diuntungkan atas keberadaan bandara.

“Atau hanya jadi penonton?” tuturnya.

Sosialisasi yang belum optimal, jelas menjadi penyebab utama adanya penolakan itu. Masih ada sejumlah warga yang belum menerima informasi terkait pembangunan bandara secara utuh. Otomatis, mereka yang belum terinformasi inilah yang menolak keras.

“Kalau sosialisasi intensif, lama-lama nanti penolakannya juga berkurang seperti kasus rencana pembangunan PT JMI dulu,” tandasnya.

Seperti diketahui, sejumlah warga yang tergabung dalam Paguyuban Wahana Tri Tunggal (WTT) bersikeras menolak pembangunan bandara baru itu dengan mencabut patok-patok pembatas lahan yang telah dipasang. Mereka bahkan meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ikut turun tangan mengawasi proyek ini. Hal itu karena adanya kecurigaan WTT terhadap sikap Pemda yang bersikeras menjalankan proyek yang terang-terangan ditolak warga itu.

Menanggapi hal itu, Tavip justru kebingungan. KPK tidak selayaknya mengintervensi Pemda DIY dalam pelaksanaan pembangunan bandara. Sebab, tidak ada sepeserpun APBD DIY yang dialokasikan untuk proyek bandara.

“Kalau menyangkut KPK, itu artinya ada penyimpangan uang. Padahal Pemda tidak pegang uang apapun. Dalam APBD juga tidak ada alokasi untuk bandara. Saya jadi tim saja tidak dapat apa-apa, honor juga tidak ada,” jelas Tavip.

Termasuk untuk pembebasan lahannya pun, anggaran sepenuhnya berasal dari PT Angkasa Pura selaku pemrakarsa proyek bandara serta para investor-investornya.

Sebelumnya, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X juga pernah menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mengintervensi proses sosialisasi ke warga. Sebab, itu adalah kewenangan Pemkab Kulonprogo. Namun HB X menegaskan bahwa megaproyek bandara internasional harus terealisasi.

“Pembangunan bandara ini sudah masuk dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), sudah jadi program nasional. Jadi harus bisa terealisasi,” ucap HB X dijumpai di kantornya di Gedhong Wilis Kepatihan, Senin (13/1/2014).

Kepala Bappeda DIY Tavip Agus Rayanto membenarkan hal itu.

“Suka tidak suka, proyek bandara ini memang dibutuhkan. Sebab, bandara Adisutjipto sudah tidak representatif melihat dari kondisi kepadatannya dan seringnya dipakai latihan AU,” ucap Tavip, sehari sebelum mengikuti pertemuan dengan Kemenhub RI di Jakarta.

Tak mau ikut campur sosialisasi ke warga, Pemda DIY justru tengah focus menyelesaikan permasalahan antara PT Angkasa Pura selaku pemrakarsa bandara yang bersinggungan dengan PT Jogja Magasa Iron (JMI) yang akan membangun pabrik pengolahan bijih besi (pig iron) di lokasi yang berdekatan dengan bandara.

“Pemda DIY itu tugasnya membantu menyelesaikan kesepakatan antara PT Jogja Magasa Iron (JMI) dengan PT Angkasa Pura di Jakarta besok (hari ini, Red) bersama dengan Kemenhub RI,” papar Tavip.

Sesuai perencanaan awal, pembangunan fisik bandara seharusnya bisa dimulai pada tahun 2015. Artinya, proses sosialisasi, pengukuran hingga pembebasan lahannya dan berbagai masalah lainnya harus sudah selesai tahun ini. Tapi Pemda DIY nampaknya tidak mungkin saklek dengan tata kala itu. Mereka harus melihat perkembangan kondisi social di sana. Terlebih, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta agar dua proyek besar yang sama-sama akan dibangun di Kulonprogo ini bisa operasional semua. Tidak ada yang digagalkan. Sebab, keduanya berpotesi medongkrak pertumbuhan ekonomi di tanah menoreh itu.

“Ya makanya, besok itu kita lihat hasil pertemuan dan keputusannya dari Kementerian Perhubungan di Jakarta. Sebab, dokumen Kawasan Keselamatan Operasional Penerbangan (KKOP) nya juga masih menunggu hasil teknis pertemuan besok itu,” paparnya.

Dalam pertemuan itu, rencananya akan dipaparkan tentang rincian teknis atas kesepakatan lisan yang telah dibuat PT Angkasa Pura dengan PT JMI bersama Gubernur. Yakni kesiapan PT JMI memundurkan pabriknya serta kesiapan Angkasa Pura menggeser landasannya.

“Itu kan baru komitmen lisan, makanya akan di-breakdown dalam pertemuan itu,” tandasnya. 

Invasi Asing Pemodal yang Seenak dan Semaunya
-----------------------------------------

Kulonprogo, CyberNews. Berbagai megaproyek yang akan dibangun di pesisir selatan Kulonprogo perlu sinergis agar tidak saling berbenturan, seperti antara rencana penambangan pasir besi dengan pembangunan bandara. PT Jogja Magasa Iron (JMI) diminta tidak membangun cerobong dengan ketinggian lebih dari 45 meter agar tidak mengganggu ruang penerbangan.

Permintaan itu disampaikan Sekretaris Perusahaan PT Angkasa Pura I Miduk Situmorang dalam rapat koordinasi dengan Pemkab Kulonprogo yang juga dihadiri pihak investor JVK dari India, di Gedung Binangun kompleks Pemkab, Senin (26/9). Menurutnya, ruang penerbangan di sekitar bandara harus bebas dari bangunan-bangunan tinggi. Ruang itu terbagi dalam tiga zonasi, yakni zona I ketinggian bangunan harus di bawah 45 meter, zona II di bawah 100 meter, dan zona III di bawah 150 meter.

“Cerobong dengan ketinggian 45 meter di zona I akan mengganggu penerbangan. Sehingga kami meminta agar cerobong tidak lebih dari ketinggian itu,” katanya usai rapat.

Mengenai lokasi pembangunan bandara, Minduk menyatakan belum bisa memastikan karena harus menunggu hasil studi terlebih dulu. Dalam proses pembangunan bandara, PT Angkasa Pura bekerjasama dengan JVK, investor dari India yang akan mendanai studi. Perusahaan itu dinilai telah berpengalaman dalam pengelolaan bandara yang ada di daerah pemukiman berpenduduk padat.

Minduk mengatakan, mengingat mendesaknya kebutuhan untuk peningkatan pelayanan, pembangunan bandara akan lebih baik bila dilakukan lebih cepat dengan tetap sesuai prosedur.

“Sehingga memang pembangunan bandara sangat diperlukan,” katanya. Pihaknya optimistis pembangunan bandara pengganti Bandara Adisucipto Yogyakarta sudah bisa terealisasi pada 2015 mendatang.

Sementara Sekretaris daerah (Sekda) Kulonprogo, Budi Wibowo mengatakan, megaproyek yang akan dibangun di pesisir selatan Kulonprogo memang perlu sinergis dan saling mendukung. Terkait permintaan PT Angkasa Pura agar PT JMI tidak membangun cerobong asap lebih dari 45 meter, menurutnya tidak masalah. Pihaknya telah berkoordinasi dengan PT JMI dan perusahaan itu bersedia menyesuaikan. “PT JMI tidak keberatan dengan permintaan itu,” imbuhnya.

http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/news/2011/09/26/97489


Refleksi :

"Apakah memang Rakyat tidak pernah untuk menjadi seorang yang merdeka menghuni ditanahnya sendiri. Mereka digusur diinjaki oleh kekuatan para pemodal yang selalu saja memberikan sejuta pemimpi. Bagi mereka, Tani adalah ranjang kehidupan mereka untuk makan dan minum. Tanah adalah tempat peristirahatan mereka yang layak untuk mereka tempati. Kalo udah digusur penguasa dan pemodal yang bisa ketawa dan senyum menikmati atas sejuta penderitaan rakyat yang gigit jari dan menikmati kebisingan pesawat pulang pergi. Sekalipun mereka tidak punya keinginan untuk naik pesawat."